Friday, July 20, 2007

Snorkling di Gapang Beach, Pulau Weh



Awal bulan Juli yang lalu benar-benar membuat ku capek namun sekaligus menyenangkan. Betapa tidak, di minggu awal bulan Juli lalu aku dan beberapa teman harus mengorganisir internal training untuk staf-staf kantor ku. Tidak banyak sih...hanya 15 orang peserta. Namun capek dan kerja keras itu seolah impas karena training nya diadakan di tempat yang sangat menyenangkan....di Pulau Weh. Tepatnya di Pantai Gapang (Gapang Beach).










(Gapang Beach, Pulau Weh)










(Konferensi sambil Wisata)

Betapa tidak, seminggu sebelum acara dimulai, di kepalaku dan tentunya di kepala teman-teman yang lain adalah indahnya bermain-main di debur ombak pantai berkarang serta menikmati indahnya terumbu karang dan ikan-ikan langsung di habitatnya. Hanya sesekali mungkin terlintas tentang training itu (he he he, pantesan abis pelatihan peserta bukannya tambah pede, malah mungkin tambah bingung kali!).

Kami semua menginap di Leguna Resort, salah satu dari dua resort yang mahal di Gapang. Tarifnya 200 ribu rupiah dengan televisi yang tidak bisa hidup dan serangan mati lampu. Lumayan masih ada AC dan air cukup untuk mandi dua kali sehari plus lain-lain. Kalo mau nginep disini terutama pas lagi Weekend, baiknya pesen kamar dulu via telpon karena selalu penuh.


Aku dan teman-teman melakukan snorkling di pantai mulai pukul 5.30 sore. Wah apa nggak kesorean tuh...? tentu saja tidak, karena pulau Weh itu terletak di paling ujung Barat Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) jadinya tentu senja datang lebih lama dari daerah lain. Waktu itu Azan Maghrib aja sekitar jam 7 lewat dikit gitu. Sebenarnya sih lebih enak snorkling pagi menjelang siang karena sinar mentari tembus lebih dalam ke dasar laut sehingga pemandangan laut lebih terang. Namun apa daya, misi snorkling kali ini harus membonceng misi training. Jadilah snorkling di sore hari setelah kelar dengan tumpukan materi training. Tapi lumayanlah...

Dari resort yang kami tumpangi, kami harus jalan kaki sekitar 500 meter untuk menuju ke pantai, yaitu pantai Gapang. Memang sih di depan resort juga terhampar laut, namun pantainya agak curam dan berbatu-batu. Jadi lebih nyaman bermain di pantai Gapang yang berpasir campur pecahan karang. Selain itu tempat penyewaan alat snorkling juga ada di situ.

Dengan modal 15 rebu untuk snorkel dan 15 rebu untuk kaki katak, akhirnya kami bisa menikmati keindahan flora dan fauna dasar laut. Cukup indah dengan ikan-ikan kecil beraneka warna. Ikan nemo juga sempat kami temukan disitu. Selain itu kami juga ketemu ikan barracuda (ikan alu-alu) tapi ukurannya kecil loh. Kalo gede, mendingan cabut aja daripada dia nyosor ke kita...hiii.



Sempet juga ketemu ikan belut muray (Morray eel) yang nongol dari balik rimbunan batu karang. Mulutnya membuka-menutup sambil kelihatannya menunggu ikan-ikan kecil silap dan mudah untuk ditangkap. Karang-karangnya juga bagus walau ada sebagian, terutama yang berhadapan dengan pantai berpasir, sudah pada patah-patah dan mati. Tapi di bagian pantai yang berbatu, rimbunan karang terlihat utuh dan hampir semuanya hidup.



Kami juga sempet ketemu dengan penyu hijau. Penyu ini bermain-main menuju ke pantai sepertinya. Sempet juga kami saling sapa dan kejar-kejaran. Lumayan bisa numpang berenang sambil ditarik sama penyu. Sungguh pengalaman yang menakjubkan. Sungguh tidak sia-sia penjelajahan kami di air selama satu setengah jam. Walopun dalam perjalanan kali ini tidak sempet scuba diving, namun kerinduan hati akan keindahan terumbu karang terbayar sudah dengan hanya penjelajahan di permukaan laut.


Daftar telepon di Gapang:
Leguna Resort: 08126951415
Flamboyan Resort: 081360272270
Kedai Naguna: 081377384747, 081377037556 (tempat pesen makanan kalo ada pelatihan atau event kecil-kecilan, bisa juga pesan transportasi jemputan Balohan(pelabuhan ferry) - Gapang dengan tarif murah dan bebas Calo, pake mobil kijang)
Lumba-lumba diving: 08xxxxxxxxxxxx (tidak mau kasi tau, karena ada pekerja di dive shop itu yang kejam dan sok, pemiliknya aja cool aja, he he he...rasain lu)

Friday, June 29, 2007

Tour de Tsunami Area

Sudah pernah ke Aceh sebelumnya untuk sekedar jalan-jalan dan berwisata? Cobalah sekali-sekali jalan-jalan ke Aceh. Aceh tidak lagi seperti yang dibayangkan orang selama ini. Aceh sekarang aman, tentram dan damai. Kalaupun tindak kriminal sekarang terlihat meningkat di koran-koran, itu sama sekali tidak terasa sangat meluas. Aceh masih jauh lebih aman daripada Jakarta, Medan atau Pekanbaru.

Banyak yang bertanya ngapain ke Aceh, bukankah Aceh itu hancur lebur dihantam tsunami? Tentu tidak ada yang menarik di Aceh sekarang. Begitu mungkin ujar banyak orang menilai Aceh. Tentunya ini tidak sepenuhnya benar. Banyak hal yang menarik yang bisa dilihat termasuk diantaranya proses rehabilitasi dan rekonstruksi itu sendiri. Berikut ini ada beberapa hal menarik yang bisa kita saksikan di Aceh paska bencana tsunami.

1. Mesjid Raya Banda Aceh (Mesjid Raya Baiturrahman)
Mesjid ini merupakan salah satu landmark Banda Aceh. Juga merupakan salah satu saksi kedahsyatan bencana tsunami akhir tahun 2004 lalu. Mesjid ini berdiri tegak setelah hantaman gelombang maha dahsyat dengan kerusakan yang tidak berarti. Saat ini mesjid ini berdiri dengan megahnya menunjukkan kebesarannya. Menarik untuk memperhatikan arsitektur mesjid ini, sejarahnya dan kegiatan masyarakat di sekitar mesjid ini.

2. Kapal Generator PLN yang terdampar di Kota
Ini juga salah satu peninggalan tsunami yang menjadi monumen dan selalu mengingatkan bahwa bencana dapat timbul setiap saat dengan kekuatan yang tidak terbayangkan oleh pikiran manusia. Kapal ini terdampar sejauh kira-kira 4 kilometer dari tempat asalnya di Ulee Lheue dan terdapar di tengah-tengah pemukiman masyarakat. Kapal ini persis duduk di atas sebuah rumah dan tentu saja rumah itu bukan lagi sebuah rumah sekarang melainkan tinggal puing-puing yang menyangga kapal itu.

3. Pantai Lhoknga dan pantai Ujong Batee
Meskipun pantai adalah tempat utama yang dihantam oleh tsunami, namun keindahan alam ciptaan Tuhan yang satu ini tidak berubah hanya karena tsunami. Diantaranya adalah pantai Lhoknga dan Ujong Batee. Kedua pantai ini tetap indah dan karenanya pengunjung pantai ini sangat ramai terutama di hari-hari libur. Walaupun indah namun harus tetap berhati-hati karena pantai ini cukup berbahaya untuk berenang. Sudah 8 orang setelah tsunami meninggal karena terseret ombak yang lumayan besar di pantai Lhoknga.

4. Sabang, Pulau Weh
Pulau ini terletak di ujung utara provinsi NAD. Terpisah dari pulau Sumatera sejauh sejam perjalanan menggunakan kapal cepat. Memiliki pantai yang indah dan terumbu karang yang terjaga. Di pulau inilah hitungan kilometer pertama Indonesia dimula. Tugu kilometer nol ada di ujung pulau ini. Iboih merupakan satu kawasan konservasi laut yang terjaga ekosistemnya dan sangat menarik untuk melakukan kegiatan penyelaman di situ. Akomodasi sangat lumayan dan tersedia dive shop yang siap melayani anda untuk mengunjungi pesona wisata bawah laut di perairan Sabang. Khusus untuk sabang, akan ada artikel tersendiri setelah ini.

Itulah empat diantara banyak dan tidak terhitung pesona wisata menarik di Aceh khususnya di sekitar Banda Aceh. Masih banyak lagi yang menarik termasuk bagaimana proses pembangunan, bagaimana model dan bentuk rumah-rumah bantuan di Aceh yang unik dan menarik.

Selain itu hal lain yang perlu diperhatikan adalah pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Ini adalah keunikan yang harus dihormati oleh semua pengunjung yang datang ke Aceh. Pakaian yang sopan bagi perempuan dan laki-laki merupakan suatu keharusan. Bagi perempuan, menggunakan selendang, walaupun anda bukan muslim merupakan hal yang sangat dihargai. Pergaulan antara perempuan dan laki-laki juga sangat dibatasi. Berdua-duaan di pantai berlainan jenis terutama di tempat sepi bisa mengundang pertanyaan bagi masyarakat lokal. Jika anda sudah menikah, membawa surat nikah sangat penting atau anda terpaksa tidur di kamar yang berlainan di hotel.

Tuesday, June 19, 2007

Si Gale-Gale, Penunggu Pulau Samosir


(Si Gale-gale di depan rumah kayu tradisional Batak)
Si Gale-gale adalah nama sebuah boneka kayu yang bisa digerakkan untuk menari. Boneka ini lazim ditemui di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara. Bentuknya unik dengan pakaian tradisional batak melekat di badannya. Jika sesekali berkunjung ke pulau Samosir, jangan lupa untuk menyaksikan kehebatannya mengolah tubuh.


Menurut pemandu yang memandu penampilan boneka ini, si Gale-gale ini adalah anak bangsawan atau katakanlah Raja di Pulau Samosir. Namun kemudian meninggal dan orang tuanya tak rela dengan kepergian anaknya tersebut. Maka untuk menghibur diri, mereka membuat replika anaknya tersebut. Boneka kayu itu dibuat dengan sedemikian rupa sehingga bisa digerakkan dari belakang oleh seseorang. Gerakan itu terjadi karena bagian lengan dan kepala dihubungkan dengan tali tersembunyi. Menurut pemandu itu pula bahwa konon dulu kala jumlah tali yang menggerakkan si Gale-gale itu sama dengan jumlah urat yang ada di tangan manusia.

Si Gale-gale menari dengan iringan musik tradisional Batak. Dalam versi aslinya, tentu musik ini dimainkan secara live. Namun karena kemajuan teknologi dan demi untuk kepraktisan, sekarang masyarakat menggunakan tape recorder untuk memperdengarkan lagu tradisional pengiring tari si Gale-gale. Masyarakat pulau Samosir menggunakan si Gale-gale ini sebagai salah satu daya tarik wisata. Pengunjung harus membayar jumlah tertentu (tergantung musim) untuk satu paket menyaksikan tari ini (terserah berapa orang yang nonton). Sembari menyaksikan tarian, si pemandu berceloteh, tentunya dengan logat batak yang kental, tentang legenda si Gale-gale ini.
Boneka si Gale-gale ini juga diberi hiasan dengan motif tradisional Batak yang tak kalah indahnya. Tak lupa pahatan dengan gambar cicak juga diletakkan untuk menghiasi boneka ini. Ada pula yang unik di dasar tempat si Gale-gale ini berdiri, yaitu pahatan berupa 4 buah gundukan yang menurut pemandu itu adalah bentuk yang menggambarkan payudara wanita. Aku juga lupa kenapa ada empat buah (red:mungkin pembaca bisa menginformasikannya karena jangan-jangan pemandunya yang ngarang cerita sendiri). Mungkin itu pertanda kasih sayang orang tua si Gale-gale ini pada anaknya yang disimbolkan dengan payudara dimana dulu ketika si Gale-gale masih kecil sang ibu menyusuinya dengan penuh kasih sayang. Si Gale-gale juga menggunakan kain Ulos yang merupakan kain tradisional Batak yang sangat terkenal.
Penasaran? Kalau penasaran ingin lihat si Gale-gale menari, silahkan saja kunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir.
(bersama Si Gale-gale)

Tuesday, June 12, 2007

Berastagi North Sumatera with Love



(Gunung Sibayak, pesona utama kota Berastagi)

Tidak ada kata lain untuk Berastagi North Sumatera, Karo Highland, selain dingin dan indah. Heran kenapa atmosfir Berastagi sebagai kota wisata begitu kuat sehingga bisa menarik banyak wisatawan. Tak banyak yang bisa dilihat disana selain keindahan alam dan kesejukan udaranya. Namun demikian tak putus-putus pengunjung kota ini.














(Pasar induk sayur dan buah di Berastagi)

Apa aja yang bisa kita nikmati di Berastagi, North Sumatera, Karo Highland?

1. Belanja buah-buahan segar dan sayuran segar.
2. Mendaki atau tracking ke Gunung Sibayak atau Sinabung
3. Membeli souvenir khas karo atau batak
4. Mandi air panas.
5. Panorama perjalanan yang indah
6. Wisata budaya karo
7. Makan jagung rebus/bakar dan naik kuda/dokar















(makan jagung sambil naek dokar)


Apa yang bikin orang berkali-kali ke Berastagi? Selain karena indah dan sejuk orang suka ke Berastagi karena

1. Dekat dari Medan hanya 2 jam saja
2. Akomodasi lengkap dan murah
3. Orangnya ramah-ramah
4. Ada pasar untuk belanja buah-buahan segar
5. Jalan relatif bagus dan mulus

Itu makanya Berastagi tetap menjadi tempat favorit keluarga untuk tamasya.














Catatan penggemar kuliner



Friday, June 8, 2007

Danau Lut Tawar, Surga di Tengah Hamparan Dataran Tinggi Gayo











(Di pintu gerbang danau Lut Tawar, Takengon Aceh Tengah, 2 Juni 2007)

Luar biasa.... Ini baru danau yang bisa menyaingi Danau Toba...decakku ketika pertama kali memasuki kota Takengon. Luar biasa indahnya... Apalagi kita bisa berkeliling danau ini dengan mudah karena sudah ada jalan yang melingkari pinggang bukit yang mengelilingi danau Lut Tawar ini.

Namun sayangnya, sebagai tempat wisata, danau ini ternyata belum begitu siap. Kalau danau dan alamnya sih sudah siap sejak lama. Namun infrastruktur pendukungnya yang belum memadai dan juga orang-orang yang tinggal belum terlalu siap untuk menerima warga luar yang hadir untuk mengagumi keindahan alam kampung mereka. Walaupun bagiku hal itu tidak mempengaruhi kenikmatanku menikmati keindahan danau tersebut.

Ketika datang pertama sekali, hampir saja aku kecewa. Bukan apa-apa, hotel yang kami rencanakan untuk ditumpangi selama liburan menolak kami karena sudah penuh. Yah salah kami juga sih karena tidak pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Padahal inilah satu-satunya hotel yang berada di bibir danau. Sayang sekali, padahal masih banyak tanah kosong di tepi danau yang cocok untuk dibangun penginapan. Namun sepertinya inisiatif itu masih jauh.
Tapi syukurlah, akhirnya kami dapat hotel yang lumayan bagus. Hotel Mahara namanya. Hotelnya sih biasa-biasa saja, hotel bisnis di tengah kota. Bukan hotel wisata. Namun kami sedikit terhibur karena restorannya terletak di lantai tiga dengan pemandangan danau dan bukit-bukitnya. Jadi selain disuguhi makan pagi, kami juga disuguhi pemandangan indah pagi hari danau Lut Tawar. Selain itu karena kami datang pada saat long weekend, mungkin itulah satu-satunya tempat yang tersedia bagi kami untuk menginap. Kalau tidak terpaksa tidur di Mesjid. Jadi hotel itu sangat berharga bagi kami.











(Pemandangan pagi hari dari restoran Hotel Mahara)

Kebetulan pada saat liburan itu sedang diadakan acara promosi pariwisata di salah satu kecamatan yang ada di sekitar danau Lut Tawar, tepatnya di kecamatan Bintang. Ini merupakan satu keberuntungan lagi bagi kami karena berkesempatan menyaksikan acara tradisional yang disajikan oleh masyarakat. Yang paling menarik adalah pacuan kuda tradisional dan Didong. Pacuan kuda ini sangat menarik karena tidak dilakukan di lintasan seperti layaknya pacuan kuda lain. Namun dilakukan di tepi danau. Dua ekor kuda dengan jokinya dipacu berlari di pinggir danau dengan kedalaman air sekitar selutut.

Sedangkan Didong adalah kesenian tradisional yang dilakukan secara berkelompok. Sekelompok anak-anak laki-laki bersyair dengan iringan tabuhan bantal kecil dan tepukan tangan yang bervariasi. Cukup unik dan menarik bunyi-bunyi yang dikeluarkan. Sedang syairnya sendiri kurang paham karena menggunakan bahasa Gayo. Kalau tidak salah syairnya tentang hal-hal yang berhubungan dengan agama atau hal-hal baik lainnya. Gerakannya juga sangat sederhana, goyang ke kiri dan ke kanan karena para pemainnya bersyair sambil bersila.


(Memandikan kuda di danau sebelum dipacu. Tepi danau ini adalah lintasan pacuan kuda)



Namun sayang sekali acara yang seharusnya menarik untuk wisatawan jadi hambar karena masih dikelola dengan sangat sederhana, kalau tidak mau dikatakan kampungan. Maklum mungkin karena ini event pertama dan dilakukan karena ada bantuan dari BRR NAD-Nias. Padahal jika para pegawai di dinas pariwisata setempat bisa lebih kreatif, ini akan menjadi sangat menarik. Selain pacuan kuda dan didong, mereka juga mengadakan lomba gasing. layangan, renang dan pacu sampan.

















(Desa Bintang tempat pacuan kuda dilakukan)

Takengon dan Lut Tawarnya juga sangat terkenal dengan kopi. Hampir setiap sudut kita melihat tanaman kopi. Sepertinya tidak ada tempat yang tidak dimanfaatkan untuk ditanam kopi. Kualitas kopinya sendiri sangat bagus dan sudah diekspor ke manca negara. Bahkan Starbuck juga mengambil kopi asal Gayo sebagai salah satu produknya. Kopi disini sudah ditanam sejak jaman kolonial sebagai komoditas yang sangat diandalkan dari dataran tinggi Gayo. Namun jangan ditanya susahnya mencari kopi asli Gayo di sini untuk dibawa pulang. Lebih mudah mencarinya di banda Aceh di supermarket dari pada di Gayo. Memang ada, tapi langsung di penggilingan kopi dan belum ada kemasannya. Kami juga sempat menikmati kopi Gayo di salah satu kedai kopi di kota Takengon. Cukup lezat dan cukup membuat kepala jadi berat.










(Menikmati kopi Gayo di salah satu sudut kota Takengon)
Menikmati dataran tinggi Gayo tidak lengkap jika tidak menikmati makanan khasnya. Salah satu yang sempat kami cicipi adalah Asam Jeng. Ini adalah ikan air tawar (ikan Nilai atau mas) yang dimasak asam pedas. Namun karena ada rempah-rempah lokal yang khas membuat asam pedas ini menjadi berbeda dan sangat khas. Apalagi disajikan panas-panas dan langsung di atas periuk tanah liat. Mak nyus rasanya. Kafe Idola di salah satu sudut kota Takengon menyediakan masakan ini. Selain itu ada juga ikan Depik. Ikan ini adalah ikan khas danau Lut Tawar dan hanya ada di danau ini. Ikan ini enak digoreng dengan tepung. Walaupun rasanya agak pahit jika termakan bagian perutnya, namun rasanya sangat gurih. Ikan ini juga ada dalam bentuk kering untuk oleh-oleh. Namun harganya cukup mahal, sekitar 70 ribu satu bambu (dua liter). Kami menikmati ikan depik goreng ini di salah satu rumah makan di Kecamatan Bintang, dekat terminal bus.
Begitulah pengalaman di dataran tinggi Gayo. Sungguh mengesankan dan takkan terlupakan. Walaupun harus berkendaraan selama 7,5 jam dari Banda Aceh. Namun terbayar dengan keindahannya serta kelezatan masakan dan kopinya. Suatu saat kami akan datang lagi kesana dan menikmati keindahannya. Semoga ketika kami datang lagi, Takengon bisa lebih siap untuk menjadi kota wisata.



Catatan penggemar kuliner